Sahabat, Selamanya.
by: Dyah Indriana Sari
by: Dyah Indriana Sari
Aku berdiri di antara mereka, mengawasi setiap hal yang mereka lakukan. Tawa mereka adalah musik favoritku sekarang, canda mereka adalah satu-satunya suara yang bisa kudengarkan selama berjam-jam dan ketika mereka berlari, mengejar satu sama lain sambil melontarkan umpatan-umpatan, cara mereka melompati kursi demi mendapatkan kertas ulangan yang dibagikan sanggup kutonton berjam-jam.
Di atas kursi ini aku duduk, memandangi mereka dalam diam tanpa mampu bergabung bersama mereka. Tidak lagi. Dulu aku selalu jadi yang pertama melompati kursi untuk mengambil ulangan, dulu aku yang tertawa lepas sampai jongkok-jongkok di lantai, dulu aku yang bercanda habis-habisan hingga teman-temanku tertawa. Dulu, mereka melihatku. Namun sekarang, mereka tidak melihatku lagi. Dulu, aku menempati kursi ini dan belajar di ruangan ini bersama yang lain. Tapi sekarang, aku hanya duduk disini dan memperhatikan mereka.
“Permisi, permisi ! Air panas, air panas !” Salah satu temanku berteriak ketika melewati kerumunan.
Aku hanya tersenyum, ia tidak membawa air panas sama sekali. Ia hanya berteriak seperti itu supaya orang-orang cepat menghindar jadi dia bisa lewat dengan gampang.
Aku berpindah ke sudut lain ruangan lalu berdiri di belakang seorang anak perempuan berambut panjang yang dikepang dua. Matanya bulat, dagunya lancip dan senyumnya manis sekali, kulitnya kecokelatan dan bertubuh tinggi
Ketika aku berada di rumah, aku melihat ibuku menangis di samping peti berwarna putih. Aku duduk di sampingnya dan memandanginya sembari berseru dalam hati, memintanya berhenti menangis dan tersenyum karena jika ia menangis seharian hingga matanya bengkak, hal itu tidak akan mengubah apapun. Tidak akan membuatku kembali.
Gitar itu masih diletakkan di kamarku. Dulu aku biasa memainkannya, bisa berjam-jam hingga tanganku memerah. Aku lebih sayang gitarku daripada buku-buku pelajaranku, sungguh. Aku anak yang cenderung menyukai musik daripada angka-angka yang ‘bertaburan’ di buku pelajaran sekolah.
Yang kuminta hanya satu. Mereka tidak menangis lagi. Melihat mereka menangis membuatku merasa aneh. Rasanya aku ditarik kemana-mana dan hal itu membuatku pusing. Bayangkan kalian diputar-putar di dalam sebuah kotak, kalian pasti pusing kan ? Nah, begitulah yang aku rasakan. Mau muntah terus kalau sudah begitu.
“Woi ! Yang disana, balikin bukuku !” Aku ingat suara melengking itu. Kemudian ia melanjutkan. “Ayolah ! Itu buku kesayanganku, astaga…Tuhan !”
Aku mengalihkan pandangan ke si pemilik suara dan tersenyum. Anak manis itu berlari melompati bangku, mengejar seorang anak laki-laki yang membawa buku berwarna ungunya keliling kelas.
“Demi apa sih ! Heh! Balikin, astagaaa!” Ia menjerit lagi. “Kalo kamu nggak mau balikin, aku buang tasmu !”
Ancaman itu. Dulu ia memberikan ancaman itu padaku, sering sekali. Ketika ancaman itu dilontarkan padaku, aku malah melawan dan tetap membawa bukunya. Aku senang melihatnya mulai mengumpat dengan bibir mungilnya yang berwarna merah seperti strawberry. Ia jadi makin imut.
Ia mengambil tas anak laki-laki itu dan menggendongnya. “Bye, aku mau buang nih tasmu !”
“Jangan..jangan ! Eh, eh! Jangan dibuaaang!” Anak laki-laki itu akhirnya menyerah.
Tas itu dikembalikan dan begitu pula buku ungu itu. Anak manis itu kembali ke mejanya dan memeluk bukunya, aku berdiri di depannya dengan senyum merekah. Kami masih SMP, tawa, gurauan, umpatan yang tidak pernah kami tujukan dengan serius, musik dari petikan gitar dan segala hal lainnya masih kuingat dengan baik.
Aku sudah melakukan ini beberapa hari. Pada hari pertama, aku bisa melihat kelas ini hening. Ada banyak orang hanya saja atmosfernya berbeda, beberapa dari mereka juga merasa ada yang hilang dan yang lainnya tahu apa yang hilang dari kelas ini. Perlu aku sebutkan ? Kurasa kalian tahu jawabannya.
Air mata mereka hal yang paling kubenci, melihat mereka menangis saat menghadiri ‘perpisahan’ kami alias pemakamanku adalah pemandangan paling jelek sedunia. Kami semua adalah sahabat dan selamanya akan selalu begitu. Sahabat-sahabatku yang sudah menemaniku, mengerjaiku dan membantuku mengerjakan tugas bahkan mencontek akan selalu abadi di dalam hatiku. Lelucon-lelucon yang hanya dimengerti oleh kami adalah hal paling unik.
Hal yang paling kusukai adalah apa yang kulihat sekarang. Teman-temanku menyanyi bersama diiringi gitar yang dimainkan oleh teman cowokku yang lain, tubuhnya kecil, pendek, kurus dan berkulit cokelat. Biasanya ada satu sahabatku yang akan memulai nyanyian itu, dia adalah si jenius yang jago Matematika. Suaranya lantang sekali, orangnya kurus dan tinggi.
Aku duduk di bangku, di sebelah anak cowok yang bermain gitar. Mataku kupejamkan dan aku mulai mendengarkan nyanyian ini, nyaman sekali. Lagu ini adalah lagu kesukaanku, lagu terakhir yang kunyanyikan mereka mereka sebelum semuanya berakhir. Lalu aku merasakannya kembali. Ada yang menangis lagi.
Lalu aku beranjak dan mendekati sahabatku yang menangis lirih. Ia membenamkan kepalanya di atas tas, berusaha agar tidak ketahuan kalau dia menangis tetapi teman sebangkunya sudah tahu. Mereka menyanyikan ini tanpa sengaja, sebagian dari mereka langsung teringat padaku dan kenanganku menyeruak keluar, menyapu bersih hal yang seharusnya mereka fokuskan dan membuat benak dipenuhi kenangan-kenangan miris itu.
Menurut mereka, aku pergi terlalu cepat. Kata mereka, harusnya aku masih ada di kelas. Mereka bilang, mereka merindukanku dan ingin aku kembali.
“Kalo kita kangen…kemana sekarang kita cari dia ?” Tanya anak perempuan berkaca mata dan berhidung bulat.
“Nggak tahu.” Teman perempuannya yang lain yang bertubuh tinggi menjawab. Ia menghela nafas. “Kalo dulu kan kita tinggal nunggu dia nongol dari kantin terus kita ejek lagi..”
“Kamu ngeliatin apa ?” Anak perempuan berkaca mata itu mendekati anak manis yang kusayang itu. Ia merapat ke anak manis itu dan mengintip apa yang ia lihat di laptopnya. “Oo, foto itu toh..”
Anak manis itu memukul-mukul meja kemudian menutup wajahnya sambil tersenyum. “Senyumnya manis!”
“Iya, cakep. Keren ya. ” Anak berkaca mata itu membalas. Anak manis itu kembali melihat-lihat foto.
Di hari yang berikutnya, aku masuk ke kelas lagi. Salah satu temanku melihatku, benar-benar melihatku. Aku berjalan menunduk ke mejaku lalu duduk disana, dia melihatku dan dia hanya menatapku dengan takjub. Aku tahu dia tidak akan bilang siapa-siapa kau dia benar-benar melihatku sementara yang lain malah sibuk dengan tugas Fisika yang susahnya minta ampun.
“Gagal total gambarku…” Gumam salah seorang temanku saat jam pelajaran seni lukis hari ini. Ia memandangi gambarnya lalu menggeleng.
“Sama aku juga…” Balas teman sebangkunya. Ia mengangkat gambarnya lalu mendesah kecapean.
Aku lihat bagaimana guru-guruku merespon kepergianku. Mereka juga tidak percaya. Mata pelajaran Matematika, aku mengamati semuanya dan tersenyum simpul ketika menyadari setengah dari teman-temanku tidak mengerti dengan apa yang diajarkan. Aku mengerti. Aku agak pintar di bidang ini. Agak pintar, ya, bukan jenius. Bahkan guru IPS ku tidak bisa mengajar, ia hanya memberi tugas mengisi LKS lalu ngobrol dengan teman-temanku soal aku. Mendadak aku eksis.
Di koran aku eksis. Kejadian itu masuk koran. Berbagai macam spekulasi mulai keluar mengenai insiden yang menjadi satu-satunya alasan kenapa aku meninggal, berita kecelakaan tersebut masuk koran. Memang pada dasarnya media suka melebih-lebihkan, suka manas-manasin. Beberapa dari temanku emosi waktu membaca berita di koran, jelas saja mereka emosi.
Mulai ada pikiran bahwa guru-guru memandang teman-teman sekelasku sebagai anak-anak malang yang ditinggal sahabatnya meninggal, anak-anak yang dirundung kedukaan mendalam dan anak-anak yang berubah drastis kehidupan di kelasnya setelah ditinggal sahabatnya. Namun pada dasarnya semuanya tidak begitu, teman-teman sekelasku adalah orang hebat, tidak peduli ranking berapa yang mereka dapat dan berapa nilai ulangan mereka.
Mereka adalah orang hebat karena mereka tersenyum ketika mereka punya hak untuk menangis. Mereka hebat karena saling mengisi satu sama lain, saling meyakinkan bahwa kepergianku tidak boleh ditangisi terus menerus. Bagaimanapun hidup mereka akan terus berlanjut dengan atau tanpa aku.
Hari demi hari berlalu. Bangkuku kosong dan selamanya akan begitu. Aku sempat mendengar bahwa teman-temanku tidak akan mengizinkan siapapun duduk disana kecuali anak-anak di kelas ini, bahkan kalau ada murid baru yang masuk, mereka akan menyuruhnya mengambil kursi lagi atau sekalian pindah kelas. Apapun, asal jangan dibangku itu.
Dan aku hanya nyengir polos mendengar omongan itu. Ternyata aku disayang, ya.
Anak manis itu masih sering merindukanku, ia bicara soal aku dan mengamati LKS ku yang tertinggal. Waktu itu LKS itu dikumpul dan baru dikembalikan setelah aku pergi.
“Nah, lo..yang ini diapain ?” Tanya teman cowok yang bertubuh tinggi putih ketika mengembalikan LKS itu.
Yang bisa teman-temanku lakukan hanya bertopang dagu dan tertawa hambar lalu buku itu diserahkan ke anak manis tadi. Ia langsung memeluk LKS itu dan memotretnya dengan kamera di ponselnya. Senyumnya merekah sekali lagi, manis sekali.
Lalu ada lagi yang ini.
“Eh, udah ada yang bayar SPP setahun, lho..” Ketua kelas kami berkata sambil melambaikan sebuah kartu biru.
“Siapa ?” Tanya temanku.
“Nih..” Dia membalikkan kartu itu sehingga mereka bisa melihat namaku.
“Duuuh..” Beberapa dari temanku mengerang ketika melihat namaku.
Semuanya masih merasa ini mimpi. Tapi ini kenyataan. Setiap kali mereka menyebutkan namaku, mereka merasa aku masih hidup. Salah satu dari mereka sering mengulang-ngulang namaku dan merasa bahwa aku masih ada.
Aku berdiri di antara teman-temanku yang sekali lagi berkumpul di sekitar bangkuku sambil menyanyikan lagu diiringi gitar lagi. Anak manis itu duduk di bangkuku dan memperhatikan fotoku, aku mengaku kalau aku ini cakep di foto yang ia perhatikan. Pada dasarnya aku memang anak cowok yang tergolong cakep sih.
“Hey, soul sister..aint that mister..mister on the radio, stereo the way you move aint fair you know…hey soul sister…i don’t wanna miss a single thing you do…tonight..”
Lagu itu mereka nyanyikan dengan baik, luka yang belum sembuh itu kembali menimbulkan rasa sakit pada diri mereka. Kali ini mereka tidak menangis, oke..beberapa dari mereka tidak menangis tapi masih ada yang menangis, namun bukan tangisan besar. Hanya berupa air mata yang membendung lalu segera mereka hapus.
Mereka menyayangiku dan aku juga. Persahabatan ini akan abadi, aku akan mengingat mereka semua sampai kapanpun dan ketika aku benar-benar pergi, semuanya akan kubawa. Pemandangan ini indah sekali, mereka berkumpul sambil bernyanyi tanpa ada air mata. Mereka menikmati nyanyian mereka dan aku juga.
Aku ingin semua orang mengenangku tanpa meneteskan air mata. Aku ingin mereka mengenangku tanpa rasa sedih, aku ingin mereka mengenangku dengan perasaan bahagia. Aku benci orang menangis.
Lalu aku mulai menganggap mereka akan baik-baik saja. Selama ini, mereka berduka dan aku tahu itu. Uniknya, ketika mereka berduka dan sama-sama perlu tempat untuk menangis atau sekedar menumpahkan kesedihan, mereka selalu ada untuk satu sama lain. Mungkin mereka tidak menunjukkan secara terang-terangan kedukaan mereka, tapi setiap orang di kelasku tahu dengan baik bahwa mereka semua berduka.
Mungkin mereka tidak memeluk satu sama lain atau membenamkan kepala di pundak lalu menangis. Tapi mereka memberikan tepukan di pundak atau kata-kata ‘jangan nangis lagi dong’. Muncul keyakinan bahwa mereka semua sudah siap, keluargaku dan yang lainnya. Kelegaan itu muncul dan semuanya kelihatan jadi lebih baik, aku tidak lagi terseok-seok dan merasa risih, semuanya jadi lebih jernih dan menenangkan.
Aku mulai melihat orang-orang di sekitarku dengan cara yang baru. Cara yang membuatku yakin bahwa selama ini aku tidak membuang-buang waktu, cara yang membuatku percaya bahwa semua yang terjadi di dunia ini, terjadi karena suatu alasan. Cara ini membuatku percaya bahwa selama ini aku mempunyai hadiah-hadiah terindah yang belum tentu orang lain miliki.
Semuanya begitu indah ketika kau melihat dunia dengan penuh kedamaian dan kepercayaan bahwa yang kau miliki dan yang kau lihat punya arti dan alasan. Sebenarnya tidak ada yang benda-benda atau hal-hal yang tidak berguna di dunia ini.
Aku tidak akan memberitahu siapa namaku. Namun yang pasti, aku pernah menjadi bagian dari kelas ini bersama teman-teman yang lain. Aku tidak pernah meninggalkan mereka, sama sekali tidak pernah. Mungkin benar, sekarang aku tidak bisa lagi mereka lihat dan tempat kami berbeda. Hei, tapi persahabatan kami tidak akan terhenti hanya karena dimensi kami berbeda bukan ?
Persahabatan bukanlah mengenai tempat, waktu dan dimensi. Persahabatan adalah sesuatu yang menembus seperti cahaya mentari, menembus waktu, tempat dan dimensi. Sekalipun kami berada di dimensi yang berbeda, hubungan persahabatan kami tetap berlanjut.
Temanku yang benar-benar melihatku menoleh padaku. Sesaat aku berada disana, melontarkan senyuman damai. Rasanya mereka akan baik-baik saja, aku bisa pergi sekarang. Mereka sudah ikhlas. Setelah itu aku pergi bersama angin dalam kedamaian.
*****
“Pinjem PR.” Pagi ini aku sudah ditodong PR oleh temanku. Anaknya berkulit putih, agak pendek, berhidung bulat tapi dia cukup imut. “Halo, pinjem PR. Cepetan.”
“Aku aja belum buat.” Balasku kalem sambil menaruh tas lalu aku bertanya ke temanku yang bertubuh tinggi. “Eh, kamu buat PR ?”
Ia menggeleng, wajahnya tidak menunjukkan niat untuk buat PR. “Palingan nggak bakal diperiksa. Kan kemarin-kemarin juga gitu. ”
“Tuh, kan. Ga usah buat PR.” Aku tahu ini ajaran sesat tapi aku juga malas buat PR karena sudah pasti tidak akan diperiksa oleh guruku.
Tanganku meraba permukaan meja lalu memutar tubuh ke belakang. Pandanganku terkunci pada bangku di belakang. Aku melambaikan tanganku ke arah itu padahal tidak ada siapa-siapa, kepada siapa aku melambai ? Angin ? Bayangan ?
Aku melambai untuk dia yang sudah punya rumah baru, aku melambai untuk dia yang sudah pindah ke tempat lain yang jauh lebih indah.
Ketika aku merasa akan menangis, aku buru-buru mengucek mataku dan berakting mengantuk. Akting gagal, temanku langsung tahu aku ingin menangis dan menepuk bahuku. Rasa sedih menyerbuku belakangan ini, memenuhi dadaku hingga sesak dan membuatku menangis. Teman-temanku menghiburku, memberitahu bahwa aku tidak boleh sedih atau bahkan menangis karena dia sudah tenang disana. Hebatnya, mereka bisa memberitahuku untuk tidak menangis pada mereka juga sebenarnya pasti ingin menangis.
Kutinggalkan bangkuku lalu berjalan meninggalkan kelas. Aku melewati papan tulis dan teringat apa yang biasa ia lakukan. Ia biasa memukul papan tulis seperti petinju sambil melenggang santai menuju bangkunya. Ia bertubuh tinggi, kurus, cakep, berbibir tebal dan rambutnya selalu dicukur rapi. Ia selalu memakai parfum yang wanginya menyengat, kalau dia lewat di sampingku, aku bisa mencium wangi parfumnya.
Temanku sering menebak yang ia pakai itu pengharum ruangan bukan parfum untuk manusia.
“Jangan-jangan yang dipakai pengharum ruangan lagi…” Komentar temanku yang duduk dideretan bangku di sebelahku. “Gila, baunya..”
“Cewek aja parfumnya nggak kayak gini baunya.” Celetuk temanku yang lain.
Aku perempuan dan memang benar, wangi parfumku tidak separah parfum anak itu.
Dia orang yang banyak omong dan jahil. Tetapi kejahilannya itulah yang membuatnya disayang banyak orang dan tidak mudah dilupakan, caranya menjahili teman-teman, caranya minta traktiran, caranya tertawa dan caranya masuk ke kelas kalau dia terlambat, semuanya membuatnya unik. Makanan favoritnya adalah spaghetti dan minuman favoritnya adalah susu cokelat.
Rasanya seperti mimpi, ketika kalian bangun di pagi hari lalu mengambil ponsel. Kalian melihat ucapan-ucapan belasungkawa untuk sahabat kalian. Awalnya aku mengira hal itu hanya bercanda tapi ternyata itu sungguhan. Sesaat, aku merasa mengambang tak menentu, tidak stabil dan bingung. Ini nyata atau tidak ya ?
Terkadang aku bertanya-tanya kenapa dia yang pergi. Tidak ada yang bisa menjawab, jelas saja tidak, siapa yang tahu alasan kenapa sesuatu atau seseorang meninggal ?. Supaya bumi tidak penuh ? Atau agar tidak memberatkan bumi ? Keduanya bukan jawaban yang pasti. Terkadang aku malah berpikir kalau tidak ada jawaban pasti untuk pertanyaan kenapa kematian harus terjadi.
Mungkin beberapa orang akan bilang, karena dimana ada kelahiran pasti ada kematian. Lalu yang lain akan bertanya, kenapa orang yang mati itu yang dipilih untuk mati dan kenapa bukan orang lain ?. Kemudian akan muncul jawaban, karena manusia punya takdir dan dimana ada awal disitu ada akhir. Dan pasti akan muncul pertanyaan, kenapa yang sudah mati harus mati sekarang ?. Semua pertanyaan akan berlanjut terus, tidak akan ada habisnya.
Kematian mungkin hal yang harus kita terima, suka atau tidak.
Harusnya dia masih bisa ikut prom, ikut UN, ulangan umum bersama, main-main, olahraga bareng dan nyanyi-nyanyi bareng, bahkan kalau bisa seharusnya dia melihat salah satu temanku jadian. Masih ada banyak hal yang seharusnya dia bisa ikuti tapi mau apa lagi..semuanya sudah terjadi dan dia tidak akan kembali.
Aku ingat dengan jelas bagaimana dia main-main ludah dengan lidahnya. Sebagian teman-temanku langsung ngomel-ngomel, bergidik jijik karena ludahnya muncrat kemana-mana. Aku juga ikut protes.
“Eh, jangan main ludah ! Dasar jorok !!” Jerit salah satu temanku.
Dia tidak berhenti malah hanya terkekeh lalu melanjutkan ulahnya lagi.
“We, udah ! Aku piket sekarang, jangan kotorin lantaiii !!” Bentak temanku yang lain.
Kalau dia sudah mulai ulahnya yang itu, biasanya dia akan mengikutiku dan mencoba memuncratkan ludahnya ke aku tapi aku selalu kabur. Sampai kemudian, ludahnya muncrat ke salah satu temanku yang berambut panjang dan bertubuh pendek.
Dia ketawa ngakak, aku juga dan beberapa teman lain. Kami ketawa ngakak sementara temanku yang kena ludah mengumpat-umpat sambil mengelap lengannya, ia kemudian mengejarnya sambil membawa sapu ijuk. Dia tidak berani dengan sapu ijuk, aku tidak tahu kenapa.
Orang itu juga tidak bisa duduk di rumput, benci rujak dan tangannya lentik sekali. Dia orangnya bersih, penampilannya rapi dan barang-barang yang ia gunakan selalu bermerk dan bagus-bagus. Biasanya kalau dia memakai barang baru, teman-temanku bakal menggodanya habis-habisan soal barang barunya sampai dia malu.
“Pinjem dong MacBook barunya…”Goda salah satu teman cowoknya.
“Wiiih, besok aku bawa BigMac dari McDonald dah ke sekolah. Biar nyaingin MacBookmu..” Sambung yang lain.
“Itu kan burger.” Teman perempuanku yang berkaca mata dan bertubuh tinggi menyahut.
Aku cekikikan mendengar omongan itu sementara yang digoda mengibaskan tangannya sebagai isyarat agar teman-temannya berhenti dan melakukan hal lain.
Terkadang dia memang menyebalkan, aku akui itu. Ia terkadang bicaranya sembarang tapi hal itu dilakukan karena ia jujur. Kadang orang kesal dibuatnya hingga ngomel panjang lebar, ia jahil tapi yang dijahili tidak pernah marah. Sebenarnya kejahilannya membuatnya makin disayang, sudahkah aku bilang tadi ? Rasanya sudah tapi biarkan aku ulangi lagi.
Kami sering bertengkar, akui saja tidak ada sahabat yang tidak pernah bertengkar. Kalau ada sahabat yang tidak pernah bertengkar, itu namanya aneh. Namun masalahnya bukanlah sebarapa sering kami bertengkar dan membiarkan masalah kami menguap begitu saja tapi bagaimana cara kami mengatasi masalah itu lalu kembali ngobrol seolah-olah kami tidak pernah bertengkar dan saling memaafkan, itulah yang penting.
Tahukah dia kalau kelas sepi saat dia tidak sekolah ? Karena tidak ada yang ribut dan banyak omong di deret belakang, karena orang yang semangat menjahilinya paling tinggi tidak ada. Apa dia tahu kalau sekarang kami kelimpungan mencari tempat pelampiasan kerinduan setelah ia pergi ?
Waktu ulangan tengah semester beberapa bulan lalu, aku ingat kejadian unik ini.
Sepatu temanku ia ambil lalu dilempar-lempar. Ia melemparnya dari satu teman ke teman lain seperti bola, si pemilik sepatu malah bersorak-sorak ketika sepatunya melayang dari satu tangan ke tangan lain. Kemudian sepatu itu mengenai kepala cowok berjari lentik itu, ia kesal kemudian merencanakan balas dendam supaya impas.
Ia menyuruh teman yang melemparinya berdiri di sudut pintu, tempat ia berdiri ketika sepatu itu menghantam kepalanya. Ia pindah ke sudut belakang, ia menyuruh kami semua tiarap bahkan adik-adik kelas yang jadi pasangan duduk kami ikut tiarap di bawah meja. Kemudian ia melempar benda itu tapi meleset, ia mengulanginya lagi berkali-kali dan itu membuat kami semua tiarap berkali-kali.
Hal itu dilakukan tanpa maksud buruk, kami hanya bersenang-senang bersama dan tidak ada yang tersinggung. Belakangan ini dia sering main gitar di kelas, lagu Hey, Soul Sister adalah yang paling ia sering mainkan karena dia akan menyanyikan lagu itu untuk tes Bahasa Inggris bersama kelompoknya. Suara petikan gitar itu masih kuingat dengan jelas, sosoknya yang duduk di bangkunya dan bermain gitar bersama teman-teman yang lain masih segar di pikiranku.
Namun sekarang disinilah kami semua, berada di kelas yang sama tetapi suasananya benar-benar berbeda. Ada yang hilang, jelas saja ada yang hilang. Kami semua kangen padanya, beberapa dari kami pernah menulis di wall Facebooknya dan mention di Twitter. Kami tahu sampai akhir zaman pun tidak akan ada yang membalas wall atau mention kami.
Aku mendengar lagu Hey, Soul Sister. Bukannya mau menyiksa diri tapi aku cuma mendengarkan lagu itu karena aku ingin, aku tidak tahu kenapa aku ingin, pokoknya aku ingin mendengarkannya.
Beberapa koran memuat beritanya, spekulasi-spekulasi pun muncul. Ada sebuah koran yang menanyakan pendapat siswa-siswi dari sekolah lain mengenai kecelakaan itu dan ketika membaca koran itu, teman-temanku marah sampai-sampai mereka merobek koran itu lalu menginjaknya. Aku juga merobek koran itu, sebagian dari mereka mencoret-coret koran itu.
“Dia nggak tahu apa-apa ! Ngapain komentar ?!” Jerit salah satu temanku.
Sebagian besar koran di robek lalu diinjak dan berakhir di tong sampah.
Aku sadar hal ini agak kasar dan mungkin kurang pantas. Tapi mereka kesal. Kenapa yang ditanyai komentar adalah anak sekolah lain sementara korbannya ada di sekolah kami ? Hal itu yang jadi alasan utama kekesalan teman-temanku.
Berhari-hari sudah berlalu, hingga dua minggu berlalu. Kedukaan itu perlahan terobati walaupun belum semuanya setidaknya lukanya sudah membaik, kadang-kadang salah satu dari temanku bilang kalau ia kangen pada anak itu. Aku juga kangen tapi mau apa lagi, kangen sih kangen tapi gimana caranya melampiaskan kerinduan itu ? Tidak ada yang tahu.
Kami merindukan senyum yang biasanya kami sebut, senyum bahagia dan tawa yang biasa kami sebut tawa orang kaya. Kami suka sekali menggodanya ketika ketawa dengan mengatakan bahwa cara ketawa orang kaya itu beda.
“Naaah, tuh kan ! Cara ketawa orang kaya itu beda !” Seru salah satu temanku yang bermata sipit.
Mendengar celetukan itu, ia kembali tertawa dan sekarang tawanya adalah hal yang kurindukan. Suaranya dan sosoknya yang jangkung, semuanya aku rindukan.
Dia memang sudah pergi tapi tahukah apa yang ia tinggalkan untuk kami ? Bukan benda, bukan uang atau buku-buku mahal. Tapi kenangan yang tersimpan dengan apik di ruang kelas kami, tersebar di antara bangku-bangku, kenangan itu akan selalu berada di ruangan besar ini, di antara jendela-jendela bening dimana angin berhembus lembut. Canda, amarah, tawa dan permainan yang kami lakukan akan abadi di hati masing-masing.
Bagian belakang papan warna putih yang sudah kami tulisi impian-impian sederhana kami. Mulai dari keinginan untuk bersama terus hingga keinginan untuk lulus TPA. Kenangan-kenangan ketika kami mengepel lantai saat kerja bakti, memindahkan meja dan menempel hiasan di dinding, ketika kami rebutan stopkontak di kelas untuk men charge ponsel, semuanya akan tetap di ruangan ini sampai kapan pun. Bahkan jika kami sudah lulus nanti, kenangan-kenangan itu akan kami bawa sebagai tanda bahwa kami pernah bersama dan kami pernah melalui masa-masa indah dan pedih bersama.
Bangku kayu yang kami coreti dengan pulpen atau spidol, korden yang sempat kami rusak, kaca yang nyaris kami pecahkan dan pintu yang sering kami tendang, mereka adalah saksi persahabatan kami. Hanya karena dia sudah pergi, bukan berarti persahabatan kami berakhir, persahabatan kami akan terus berlanjut hingga akhir nanti. Bahkan persahabatan itu akan tumbuh semakin kuat untuk orang-orang yang akan kami temui nanti, kepergiannya memberikan pelajaran penting. Dia orang hebat. Aku tidak akan mengatakan bahwa aku pernah punya sahabat seperti dia, aku akan mengatakan bahwa aku punya sahabat seperti dia.
“Jangan bengong !” Teman perempuan yang berkulit sawo matang, rambut pendek dan bertubuh kurus mengejutkanku. “Ayo, keluar. Sini main, masih pagi udah bengong. Macet nanti rejekinya.”
Ia menarikku, membawaku ke luar kelas lalu kami semua duduk di bangku biru panjang dan mengobrol. Tawa kami menggema di lorong lantai dua, angin pagi berhembus lembut menerpa wajah kami, langit biru cerah dan burung-burung berseliweran di langit luas. Cuacanya bagus sekali.
Luka itu masih ada hanya saja sudah tertutupi dengan senyuman dan kegiatan lain. Kami tidak akan melupakannya, dia akan selalu ada di hati kami. Sebenarnya kita tidak pernah melupakan seseorang, kita hanya belajar hidup tanpa mereka.
Aku percaya, suatu hari nanti kami semua akan bertemu lagi di satu tempat dimana semuanya berasal. Hanya saja hingga saat itu tiba, kami akan terus hidup disini, menggapai impian-impian kami, berjuang untuk bertahan di atas prinsip-prinsip yang kami bangun sejak hari ini. Dia orang yang bersemangat, tawanya, candanya, gayanya dan semua tentang dia akan selalu kami ingat. Dia adalah bagian dari kami, ia adalah orang yang punya impian.
Kehidupan kami akan terus berlanjut dan masa depan sudah menanti.
Dia pernah mengatakan sesuatu yang begitu berkesan dan akan kuingat selalu.
God, if someday I lose my hope, please tell me that your plans are better than my dreams
Tuhan, jika suatu hari nanti aku kehilangan harapanku, tolong katakan bahwa rencana-rencanaMu lebih baik daripada impianku
No comments:
Post a Comment