I don't know what should I post on my blog so I decided to made this. Maaf jelek, aku ngga berbakat di bidang buat cerita ginian (walaupun aku emang seneng buat cerita sih). Enjoy reading!
Hari ini tepat satu minggu setelah kepergianku. Ya, aku pergi dan tak kembali. Aku telah meninggalkan mereka untuk selamanya. Sedih memang, harus meninggalkan semua orang yang aku sayangi. Tapi inilah hidup, ini sudah takdirku. Tuhan menginginkanku untuk kembali kehadapan-Nya di umurku yang masih terbilang muda ini.
Disinilah aku, di sebuah ruangan yang dulu penuh dengan tawa. Sekarang ruangan ini benar-benar berbeda. Mereka semua berkumpul disini, melakukan aktivitas seperti biasa. Mereka saling bercanda, tertawa dan bernyanyi bersama, namun aku tau bahwa sebenarnya mereka mencoba menutupi kesedihan mereka.
Aku tau mereka sedih. Aku tau mereka kehilangan sosok yang selalu membuat mereka tertawa. Aku tau seberapa sakitnya kehilangan orang yang kita sayang, karena bukan hanya mereka yang kehilangan aku, aku juga kehilangan mereka.
Hari ini, aku duduk di bangku ku yang berada di barisan belakang. Dia berjalan ke arahku, lalu memberikanku sekotak susu coklat. Susu coklat adalah minuman kesukaanku. Dulu, sewaktu aku masih hidup, sewaktu aku masih menjadi bagian dari tawa mereka, aku selalu memintanya untuk membelikanku minuman kesukaanku itu. Tapi hari ini, tanpa diminta, dia datang membawakanku minuman itu. Aku tersenyum padanya, walaupun aku tau Ia tidak dapat melihatnya.
Dia, seorang perempuan berambut panjang, bertubuh kurus dan tidak terlalu tinggi. Aku tau dialah yang paling sedih dikelas ini saat aku pergi. Dialah yang paling kehilangan aku. Wajar saja, dia adalah mantan pacarku. Aku suka senyumnya. Tapi belakangan ini, hanya kesedihan yang terlihat. Dia tampak murung dan seringkali pikirannya kosong. Aku tau, aku lah penyebabnya. Aku sangat berharap bisa membuatnya tersenyum lagi, tapi aku tau aku tidak bisa. Dia tidak bisa melihatku. Kalau saja dia bisa melihatku, mungkin dia tidak akan sesedih ini.
Aku bangga dengan mereka. Mereka semua pasti sedih, tapi mereka sama-sama saling menghibur. Aku sayang mereka semua, sama seperti sayang mereka kepadaku. Mereka yang selalu menaruh bunga diatas mejaku, mereka yang selalu melampiaskan kerinduannya dengan menuliskan surat kepadaku lalu menaruhnya di kolong mejaku, mereka yang selalu menyanyikan lagu yang mengingatkan tentangku. Mereka benar-benar tidak tergantikan.
Aku sering mendengar teman-temanku mengatakan bahwa mereka ingin melihatku bermain gitar lagi. Saat itu, perempuan yang aku sayang itu sedang menonton video di ponselnya. Itu videoku saat tes bahasa inggris kemarin. Aku mengiringi temanku bernyanyi Hey Soul Sister. Aku melihat matanya berkaca-kaca, tapi segera dihapusnya. Aku tau, dia hanya tidak ingin aku ikut sedih dengan melihatnya menangis.
“Aku kangen…Kangen liat dia main gitar..” katanya lirih.
Teman
sebangkunya hanya bisa menepuk-nepuk pundaknya, karena aku tau pasti dia juga
merasakan kerinduan yang mendalam padaku.
Beberapa hari kemudian, aku melihatnya menangis. Sedih rasanya. Aku benci melihat mereka menangis karenaku. Teman-teman yang lain mengelilinginya, berusaha menghiburnya agar perempuan itu tidak menangis lagi. Namun, air matanya tetap menetes membasahi pipinya. Aku berharap dia tau bahwa aku juga sangat merindukannya. Aku ingin dia tau bahwa aku masih ingin bercanda dengannya, masih ingin mengobrol dengannya, dan tentunya aku juga masih ingin bertemu dengannya.
Hari itu, aku berdiri didepan kelas. Tidak ada yang bisa melihatku. Tapi aku yakin mereka tau akan keberadaanku saat aku di dekat mereka. Perempuan itu keluar kelas, berdiri tepat disampingku.
“Biasanya, dia diem disini sambil nyengir, ngeliatin kita semua bercanda..” kata perempuan itu sembari mengenangku.
“Udahlah, dia masih ada disini kok, dia ada disampingmu. Jangan sedih lagi dong..” temanku yang tinggi dan berkacamata menghiburnya.
Ya, aku ada disampingmu saat itu, dan aku harap kamu tau.
Sekali lagi, aku bangga dengan persahabatan mereka. Disaat satu orang sedih, yang lain menghiburnya walaupun mereka sebenarnya merasakan hal yang sama. Itulah gunanya sahabat, selalu ada disaat sahabatnya membutuhkannya, selalu mendukung sahabatnya disaat sahabatnya sedang terpuruk.
Hari demi hari berlalu, aku senang bisa melihat mereka tersenyum. Itulah yang aku inginkan, tidak ada air mata. Aku memang pergi meninggalkan mereka ke dunia yang berbeda, tapi suatu saat nanti kita pasti akan bertemu lagi. Semuanya hanya masalah waktu.
Aku rasa mereka sudah semakin ikhlas akan kepergianku. Aku senang, mereka selalu menyertakanku dalam setiap kegiatan yang mereka lakukan. Futsal, jalan-jalan, nonton bareng, mereka selalu mengajakku ikut pergi dengan mereka. Aku sangat sayang mereka. Mereka adalah sahabat yang benar-benar menyayangiku. Persahabatan kita tidak akan berhenti sampai disini.
Mereka selalu mengatakan “Dia masih ada, dia hidup dihati kita selamanya”.
Aku tersenyum saat mendengarnya, “Kalian juga akan selalu hidup dihatiku selamanya” kataku, meski aku tau mereka tidak bisa mendengarnya.
Disinilah arti persahabatan yang sesungguhnya, bersama-sama menghadapi kesedihan dan mencoba membuat tawa sebagai obat dari semua kesedihan ini. Bagiku, mereka bukan sekedar teman sekelas, mereka lebih dari itu. Memiliki mereka seperti memiliki harta yang paling berharga, dan tidak banyak orang yang memilikinya di dunia ini. Mereka hanya satu, dan selamanya mereka ada disini, dihatiku.
Terima kasih teman-teman, atas semua yang telah kalian berikan. Kalian harus tau, aku masih bagian dari tawa kalian, aku selalu hadir diantara kalian meskipun kalian tidak melihatku. Kapanpun kalian merindukan aku, ingatlah bahwa aku selalu ada dihati kalian. Kapanpun kalian merasa ingin menangis, tersenyumlah, dan ingatlah aku selalu sayang kalian.
Ya, inilah waktunya. Mereka sudah ikhlas akan kepergianku. Setelah itu aku akan pergi bersama angin dalam kedamaian. Menuju ke suatu tempat, dimana pada akhirnya kita semua akan bertemu kembali…
***
No comments:
Post a Comment